Don't miss

Tips Berpuasa Saat Hamil dan Menyusui

By on Oktober 30, 2012
tips-berpuasa-saat-hamil-dan-menyusui

Bulan suci Ramadhan, bulan yang selalu dinanti dengan sukacita oleh setiap muslim akan segera tiba. Setiap muslim berlomba-lomba untuk dapat menggapai sebanyak mungkin manfaat ibadah di dalamnya. Demikian pula yang dirasakan oleh Nisa. Meskipun hamil, dia berharap, pada Ramadhan kali ini ibadah puasa dapat dijalaninya dengan sempurna. Namun, sebagaimana wanita lainnya, dia mengkhawatirkan kondisi janinnya yang baru memasuki trimester pertama. Muncul pertanyaan di benaknya, “Apakah saya boleh berpuasa atau tidak?

Puasa adalah salah satu pilar dari rukun Islam. Hukumnya adalah wajib. Sebagaimana yang Allah Azza wa Jalla terangkan dalam firman-Nya :
Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”(QS. al-Baqarah : 183)

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman :
Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu. Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain. Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS. al-Baqarah:185)

Boleh Berpuasa Asal Sehat
Dr Nawal As-Sinami, seorang konsultan ginekologi (Asal kata: Gynaecology, yang berarti ilmu yang mempelajari dan menangani kesehatan reproduksi wanita) dan asisten profesor di Rumah Sakit King Abdul Aziz, Saudi Arabia, mengatakan secara ringkas bahwa seorang wanita hamil yang berencana untuk berpuasa sebaiknya memerhatikan keadaan dirinya dan janin yang dikandungnya dengan cara membicarakannya bersama keluarga serta berkonsultasi kepada dokter atau ahli gizi.

Berpuasa di bulan Ramadan sebenarnya bukan berarti asupan makanan ke dalam tubuh berhenti secara mutlak. Akan tetapi, seseorang hanya menjalani jadwal makan yang berbeda dari biasanya, yaitu pada waktu sahur dan berbuka puasa, serta di malam hari. Secara medis, seorang wanita hamil diperbolehkan berpuasa sepanjang tidak mempengaruhi kondisi kesehatan janin dan dirinya. Namun demikian, hendaknya dia dapat mengukur kemampuan dirinya sendiri, atau dengan berkonsultasi terlebih dahulu kepada dokter kandungan sebelum dia menjalankan puasa.

Pada kehamilan yang sehat, insya Allah puasa tidak akan berpengaruh pada kondisi kesehatan janin. Yang dimaksud dengan kehamilan yang sehat adalah jika puasa yang dilakukannya tidak menimbulkan risiko bagi kesehatannya dan bayi yang dikandungnya. Misalnya, jika sampai menimbulkan gangguan anemia diabetes(kencing manis), yang akan menyulitkannya dalam menjalani puasa di saat hamil.

Pada kehamilan trimester pertama, beberapa wanita mengalami mual dan muntah. Kondisi seperti ini tentu menyulitkan wanita yang hamil untuk berpuasa arena asupan makanan yang dibutuhkan tubuh tidak terpenuhi ketika sahur dan berbuka puasa. Namun, apabila kehamilannya tidak bermasalah, seperti nafsu makan yang normal dan tidak mengalami morning sickness (disebut juga pregnancy sickness, merupakan perasaan mual yang terkadang disertai muntah selama kehamilan, terutama pada pagi hari saat lambung kosong), maka dia boleh berpuasa.

Pada kehamilan trimester kedua dan ketiga, janin membutuhkan gizi lebih banyak sehingga kadang-kadang ibu sering merasa lemas. Jika memilih untuk tetap berpuasa, hendaknya seorang ibu memilih makanan yang benar-benar bergizi agar pertumbuhan janin tidak terganggu.

Bagaimana dengan ibu menyusui yang ingin berpuasa? Selama kondisi ibu dan bayi sehat, maka diperbolehkan untuk berpuasa. Kebutuhan nutrisi dan pola makan untuk wanita hamil dan menyusui sebenarnya tidak jauh berbeda. Hanya saja, kalori tambahan yang dibutuhkan oleh seorang ibu menyusui lebih tinggi dibanding ketika hamil, yaitu sekitar 500 kkal perhari.

Apakah puasa akan mempengaruhi produksi Air Susu Ibu (ASI)?
Sebuah penelitian yang dilakukan di Afrika Barat terhadap ibu menyusui yang berpuasa, menyimpulkan bahwa puasa tidak berpengaruh terhadap volume air susu ibu, karena selama berpuasa tubuh wanita menyusui telah memiliki adaptasi metabolik untuk memastikan bahwa produksi ASI tidak terpengaruh. Berikut ini beberapa tips yang dapat dilakukan oleh wanita hamil dan menyusui selama berpuasa:

Ketika Sahur

  1. Sahur, selain untuk menjalankan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga untuk mendapatkan energi yang berguna untuk melakukan aktifitas seseorang pada hari tersebut. Hendaknya seorang ibu memilih makanan yang mengandung protein dan lemak yang cukup karena kedua zat gizi ini dapat bertahan lebih lama dalam tubuh dibandingkan dengan karbohidrat. Wanita hamil dan menyusui memerlukan banyak protein sebagai penunjang pertumbuhan jaringan. Beberapa sumber protein hewani diantaranya berasal dari ikan laut (seafood), unggas, daging sapi, hati, dan telur. Sementara itu, sumber protein nabati dapat diperoleh dari tahu, tempe, kacang-kacangan, dan serealia. Susu dan produk olahannya, seperti keju dan yogurt juga merupakan sumber protein yang baik. Kemudian, lemak dapat membantu tubuh untuk menyerap banyak nutrisi. Makanan yang tinggi kadar lemaknya antara lain adalah daging berlemak, susu, keju, mentega, margarin, dan minyak-minyakan.
  2. Mengonsumsi makanan yang mengandung zat besi seperti daging, sayuran berwarna hijau tua (seperti bayam), spirulina, madu, kacang-kacangan (seperti kacang polong dan kedelai), semangka dan kismis. Sangat disarankan untuk mengonsumsi vitamin C yang cukup guna membantu penyerapan zat besi dalam tubuh. Perlu diperhatikan pula bahwa susu dan teh dapat menghambat/menganggu penyerapan zat besi. Solusinya, berilah jarak dalam mengonsumsinya, jangan bersamaan.
  3. Makanlah makanan yang banyak mengandung vitamin dan mineral seperti buah-buahan dan sayuran.
  4. Cukupilah asupan cairan dalam tubuh. Masalah yang sering dialami oleh wanita hamil yang berpuasa adalah dehidrasi (kekurangan cairan), padahal cairan sangat diperlukan untuk menambah volume darah dan air ketuban. Minumlah air putih secara bertahap sebanyak 6-8 gelas setelah berbuka hingga waktu sahur. Dapat juga diselingi dengan susu, jus, atau sup.

Dari bahan-bahan makanan yang telah disebutkan di atas, kita dapat membuat menu makanan variatif dengan gizi seimbang yang sesuai dengan selera keluarga kita. Misalnya, ketika sahur kita membuat semur daging atau ayam, lalu saat berbuka kita membuat hidangan sup buah atau bubur kacang ijo. Setelah berbuka, hidangkan ikan bakar bersama lalapan.

Saat Berpuasa

  1. Beristirahatlah yang cukup, karena menyesuaikan aktivitas dan waktu istirahat saat puasa akan membantu menyimpan energi dalam tubuh.
  2. Hendaknya memilih kegiatan yang lebih bermanfaat seperti membaca al-Qur’an atau kegiatan ibadah yang lain.
  3. Meminimalkan pekerjaan rumah tangga yang cukup berat saat berpuasa insya Allah banyak membantu ibu hamil. Bila memungkinkan, alihkan pekerjaan tersebut di waktu malam.

Saat Berbuka Puasa

  1. Awali berbuka puasa dengan makanan kecil yang manis, seperti kurma untuk meningkatkan kadar gula darah dan minumlah minuman yang hangat.
  2. Berbukalah secara bertahap. Makan satu porsi makanan kecil secara perlahan-lahan, bukan makan dengan porsi besar sekaligus.
  3. Setelah shalat maghrib, maka dapat dilanjutkan dengan makanan dalam porsi yang lebih besar secara perlahan.
  4. Hindari makanan tertentu seperti acar, rempah-rempah, kopi, teh, minuman berkarbonasi, dan permen.

Perhatian
Jika saat atau setelah berpuasa Anda mengalami pusing, lemah, lelah, mual, atau muntah yang tidak mereda dengan beristirahat, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter, terutama apa bila terjadi perubahan gerakan janin atau merasa bahwa janin kurang tidak bergerak. Jangan dipaksakan untuk terus berpuasa. Sebagai informasi, syariat Islam memasukkan wanita hamil dan menyusui dalam kelompok yang diperbolehkan meninggalkan puasa pada bulan Ramadhan, apabila sang ibu mengkhawatirkan kesehatan diri atau bayinya.

Dari sahabat Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menggugurkan atas musafir dari kewajiban puasa dan setengah dari shalat, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menggugurkan wanita hamil dan ibu menyusui dari kewajiban puasa.” (Diriwayatkan oleh At- Tirmidzi, 715; Ibnu Majah, 1667; dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih al-Tirmidzi, 575)

(Khadijah)

Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *

*

Anda dapat memakai tag dan atribut HTML ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>