Don't miss

Hukum Menggunakan Obat Asma yang Dihirup

By on November 7, 2012
inhaler

Pertanyaan:
Ada obat yang digunakan penderita asmadengan cara dihirup. Apakah obat ini membatalkan puasa ataukah tidak?
Jawaban:
Obat asma yang dihirup oleh penderita asma mencapai paru-paru melalui tenggorokan, dan tidak sampai ke perut. Obat ini bukan merupakan makanan atau minuman. Tidak serupa dengan keduanya. Obat ini mirip dengan apa yang diteteskan ke saluran kemih (urethra drop), obat yang digunakan oleh orang yang terluka dalam di kepala atau di tubuh, atau serupa dengan kohl (celak) dan enema (prosedur medis yaitu memasukkan cairan ke dalam usus besar dan rektum melalui anus). Atau obat-obatan serupa lainnya, yang mencapai otak atau tubuh, namun tidak melewati mulut atau hidung.

Para ulama berbeda pendapat di dalam permasalahan ini, apakah obat-obatan jenis ini membatalkan puasa orang yang memakainya ataukah tidak.

Di antara mereka ada yang berpendapat tidak batalnya puasa orang yang menggunakannya, sedangkan sebagian ulama lainnya, ada yang menganggap puasanya batal karena menggunakan sebagian dari obat-obatan jenis ini. Adapun sebagian obat yang lainnya tidak membatalkan puasa. Namun, mereka semua bersepakat, bahwa menggunakan obat-obatan jenis ini tidak sama dengan makan dan minum.

Akan tetapi, kelompok ulama yang menganggap batalnya puasa bagi orang yang memakainya, mereka menjadikan jenis obat-obatan ini sama hukumnya dengan makanan dan minuman, dengan alasan bahwa seluruh obat-obatan ini (pada akhirnya) akan mencapai perut karena pemakaiannya. Padahal telah tetap (tsabit), dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda,
“Bersungguh-sungguhlah di dalam menghirup air (ketika wudhu) kecuali bila engkau sedang berpuasa.” (HR. at-Tirmizi 3/146, Abu Dawud 2/308, Ahmad 4/32, dan yang lainnya dengan sanad yang shahih).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengecualikan orang yang berpuasa dalam masalah ini, karena beliaukhawatir air tersebutakan mencapai kerongkongan atau perutnya apabila ia menghirup air dengan kuat, sehingga menjadikan puasanyabatal. Hadits ini (menurut pendapat mereka-pent) menunjukkan bahwa segala sesuatu yang mencapai perut karena kesengajaan akan membatalkan puasa seseorang.

Di antara ulama yang tidak menghukumi batalnya puasa seseorang yang menggunakan obat-obatan ini, adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dan para ulama yang sependapat dengan beliau. Mereka tidak membenarkan analogi (pengiasan) dari obat-obatan jenis ini dengan makanan dan minuman. Hal ini karena sebenarnya tidak ada di dalam dalil, sesuatu yang menunjukkan bahwa perkara yang membatalkan puasa adalah segala sesuatu yang sampai ke dalam kepala atau ke dalam tubuh, atau yang masuk ke dalam tubuh melalui lubang, atau yang sampai ke perut. Jadi, karena tidak ada dalil syar’i yang mendukung permasalahan ini sebagai landasan hukum batalnya puasa seseorang, maka boleh ‘menggantungkan/menunda’ berhukum dengannya secara syar’i.

Selanjutnya, anggapan bahwa obat-obatan ini sama dengan air yang sampai ke kerongkongan atau ke perut karena hirupan yang kuat (saat wudhu), adalah anggapan yang tidak benar, karena perkara-perkara ini berbeda. Air merupakan makanan. Bila air sampai ke kerongkongan atau perut, maka air tersebut akan membatalkan puasa. Sama saja, apakah masuknya air itu melalui mulut ataukah hidung, karena keduanya sama-sama merupakan jalan masuk. Oleh karena itu, berkumur dan menghirup air melalui hidung tanpa hirupan yang kuat (ketika wudhu) tidak membatalkan puasa.

Yang demikian ini tidak dilarang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jadi, mulut hanyalah jalan masuk saja, yang tidak memiliki pengaruh. Maka apabila air atau yang semisalnya masuk melalui hidung, air ini dihukumi sebagaimana ketika melalui mulut. Dalam beberapa kasus, hidung juga dapat digunakan sebagai jalan makanan (pada orang yang sakit-pent), sehingga hidung sama hukumnya dengan mulut.

Yang tampak (kuat) di sisi kami, bahwa menghirup obat (asma) ini tidak membatalkan puasa, karena sebagaimana telah dijelaskan di atas. Obat ini tidak sama dengan makanan dan minuman dari sisi mana pun.

Wabillahit taufiq, washallallah ‘ala nabiyyina wa alihi washahbihi wasallam.

Komite Tetap Pembahasan Ilmiah dan Fatwa Kerajaan Saudi Arabia
Ketua : Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz
Wakil Ketua : Abdurrazzaq Afifi
Anggota : Abdullah bin Ghudayyan
Anggota : Abdullah bin Qa’ud

(Diterjemahkan oleh: Lathifah Yusuf)

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *

*

Anda dapat memakai tag dan atribut HTML ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>